Kerusakan Gedung DPRD Palopo Ditaksir Capai Ratusan Juta Rupiah Usai Aksi Anarkis Demonstrasi
Palopo– Aksi demonstrasi ribuan massa di Gedung DPRD Palopo pada Senin (1/9) lalu menyisakan kerusakan parah pada sejumlah fasilitas penting. Akibat tindakan anarkis yang terjadi, nilai kerugian materil diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Pasca kericuhan, Polres Palopo bersama tim identifikasi langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Selasa (2/9) untuk mendata tingkat kerusakan. Penjagaan ketat pun dilakukan oleh aparat, termasuk personel TNI, guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Fasilitas Gedung Rusak Parah
Berdasarkan pantauan di lokasi, kerusakan paling mencolok tampak pada kaca dinding berukuran 12 mm di ruang lobi utama yang hancur berantakan. Kaca besar di ruang kerja Ketua DPRD di lantai dua juga mengalami nasib serupa. Bahkan, kaca jendela ruang Komisi C retak akibat lemparan batu dari massa.
Tak hanya itu, dinding dan tiang beton di ruang paripurna penuh dengan coretan cat semprot berwarna-warni. Sejumlah fasilitas lain seperti pintu dan meja rapat turut mengalami kerusakan. Sementara itu, area depan gedung tak luput dari aksi perusakan. Pintu gerbang dipenuhi coretan, papan nama berbahan aluminium rusak, dan kondisi keseluruhan tampak jauh dari kata representatif sebagai kantor wakil rakyat.
Hingga kini, pecahan kaca masih berserakan di lobi. Beberapa pegawai tampak sibuk membersihkan serta merapikan ruang kerja mereka yang porak-poranda akibat lemparan massa.
Kepala Bagian Pengawasan DPRD Palopo, Arham, mengungkapkan bahwa nilai kerugian yang ditimbulkan masih dalam tahap perhitungan. “Kalau taksirannya kemungkinan mencapai ratusan juta rupiah. Namun angka pastinya akan menunggu laporan resmi dari tim identifikasi Polres Palopo,” ujarnya.
9 Tuntutan Massa
Kericuhan tersebut berawal dari aksi unjuk rasa ribuan massa yang menyuarakan sembilan tuntutan besar. Mereka mendesak adanya perubahan mendasar dalam sistem pemerintahan, di antaranya:
-
Pencopotan Kapolri dan Dankor Brimob.
-
Penghapusan tunjangan DPR.
-
Peningkatan mutu pendidikan serta pemerataan pembangunan sekolah di seluruh Indonesia.
-
Pengesahan UU perampasan aset bagi koruptor.
-
Penegakan supremasi hukum yang lebih adil dan transparan.
-
Penerapan pajak progresif bagi kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi.
-
Pencopotan Menteri Keuangan serta pembatalan efisiensi anggaran di bidang pendidikan.
-
Pencopotan pejabat pemerintahan yang dinilai membuat kegaduhan di tengah masyarakat.
-
Reformasi institusi Kepolisian Republik Indonesia.
Aksi yang awalnya berlangsung damai berubah ricuh ketika massa mulai melemparkan batu dan benda keras ke arah gedung. Situasi kian tak terkendali hingga menyebabkan sejumlah fasilitas DPRD mengalami kerusakan serius.
Baca Juga: Mahasiswa Palopo Serbu DPRD Polisi Dilempari Batu Jurnalis Terluka
Polisi Dalami Aksi dan Identifikasi Pelaku
Kapolres Palopo memastikan pihaknya terus mengumpulkan bukti dan mendalami keterlibatan pihak-pihak yang memicu kericuhan. Identifikasi terhadap kerusakan juga dilakukan untuk menguatkan data kerugian yang dialami negara.
“Setiap kerusakan sudah didokumentasikan. Hasilnya akan menjadi acuan dalam proses hukum lebih lanjut,” ungkap salah satu pejabat kepolisian.
Antara Aspirasi dan Anarkisme
Demonstrasi merupakan salah satu bentuk kebebasan berekspresi di negara demokrasi. Namun, ketika penyampaian aspirasi berubah menjadi tindakan anarkis, kerugian besar tidak hanya menimpa fasilitas negara, tetapi juga menodai nilai perjuangan itu sendiri.
Kasus di Palopo ini menjadi cerminan betapa pentingnya menjaga kedisiplinan dalam menyampaikan aspirasi agar tujuan perjuangan tidak tercoreng oleh tindakan destruktif. Pemerintah daerah kini dihadapkan pada tugas berat, yakni memperbaiki kerusakan sekaligus menjaga kondusivitas agar peristiwa serupa tidak terulang.


















